Nafsu

Sempena awal Zulhijjah ini,

elok juga kita baca Fi Zilal surah alFajr

wahai Jiwa yang tenang

Manusia ada jiwa masing-masing. Atau kata lain, nafsu.

Tugas seorang da’ie ialah menghadiahkan nafsu yang lebih besar dari nafsu sedia ada dalam diri manusia. Sudah tentu, ia perlu lebih manis.

Kadang-kadang, manusia tidak nampak – have no idea – apakah nafsu yang lebih besar dan lebih manis itu. Tugas seorang da’ie lah menceritakan sisi baru pada nafsu.

Maka, cara nak mengubah itu perlu sehingga manusia rasa manisnya nafsu yang baru itu. Lalu, manusia akan melekat – hidup dan mati – dengan nafsu baru tersebut.

Tidak mustahil, kita berulang-ulang bercakap (baca : berdakwah) dengan sesetengah manusia, tapi seolah-olah tidak ada perubahan. Sebabnya, tiada kemanisan dalam nafsu. Nafsu dia sedia ada itu lebih manis. Bila tak rasa manis, hidup jadi tak bermakna sekadar tulang-tulang yang bergerak.

Ibarat mayat hidup.

‘Wahai orang-orang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu [meninggikan Kalimah Allah]..’ (8:24)

My Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s